Bisnis LTE Diproyeksi Tembus USD 3,9 Miliar di 2019

http://images.detik.com/content/2013/11/04/328/183234_lte4g.jpgIlustrasi (Ist.)
Jakarta - Layanan seluler generasi keempat (4G) berbasis teknologi Long Term Evolution (LTE) memang belum beroperasi komersial di Indonesia. Namun begitu keran akses itu dibuka lebar, potensi bisnis pun diyakini akan mengalir deras.

Seperti dipaparkan biro riset Frost & Sullivan dalam analisa terbarunya, pasar LTE yang telah menghasilkan pendapatan sebesar USD 947,2 juta secara global di 2012, diproyeksi akan terus tumbuh meningkat empat kali lipat hingga mencapai USD 3,97 miliar di 2019.

Dalam keterangannya Senin (4/11/2013), proyeksi terbaru bisnis LTE itu tertuang dalam studi yang bertajuk The Global Long-Term Evolution Test Equipment Market.

"LTE menjadi populer seiring dengan semakin banyaknya pengguna ponsel cerdas dan tablet, yang memerlukan tingkat sistem data yang lebih cepat dalam pengiriman data," ungkap Olga Shaphiro, Communication Test & Measurement Research Program Manager, Frost & Sullivan.

Dengan ekspansi LTE yang semakin tidak terelakkan, kata dia, permintaan untuk melakukan pengujian akan tumbuh dengan pesat mengingat kompleksnya sifat penyebaran jaringan LTE akibat adanya standar Multiple Input Multiple Output (MIMO).

Namun, mengakomodasi berbagai macam tingkat kompleksitas memerlukan waktu dan investasi dalam riset dan pengembangan (R&D), dimana kedua hal tersebut dapat menghambat pasar alat uji LTE.

Industri telekomunikasi saat ini tengah menghadapi tugas yang rumit dalam rangka mengintegrasikan teknologi baru, termasuk LTE, pada pita frekuensi yang berbeda-beda ke dalam berbagai jaringan dan perangkat.

sumber: Detik.com

Comments (0)